Prinsip Dasar Manajemen Risiko
Nama : Rini Wulandari
Nim : 1930404095
Kelas : MBS 6 C
A. Manajemen Risiko sebagai Pelindung Organisasi
Risiko yang ada dapat terjadi pada kegiatan akademik maupun kegiatan organisasi yang diikuti oleh mahasiswa. Kegiatan mahasiswa tidak pernah lepas dari risiko dengan dampak yang dapat menghilangkan nyawa seseorang. Fakta yang terjadi dalam kurun waktu empat tahun kebelakang menunjukkan bahawa kegiatan mahasiswa kerap memiliki risiko berupa kecelakaan. Risiko yang terjadi pada sebuah kecelakaan memiliki hubungan erat dengan faktor manusia atau human factor. Human error memiliki pengaruh sebanyak (60-80%) dalam terjadinya kecelakaan pada bidang militer dan publik (Weigman 2009).Humanerror memiliki beberapa kategori yang menjadi sumber terjadinya kecelakaan akibat dari risikonya. Kebiasaan untuk menjaga keselamatan, kurangnya pengendalian dan perencanaan sumber daya merupakan tiga faktor human error yang mengakibatkan adanya risiko dan dampaknya. Cara yang tepat untuk mengurangi tingkat risiko akibat dari human error adalah dengan melakukan manajemen risiko (Yilmaz 2018)
Contoh Kasusnya adalah Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu universitas dengan 104 organisasi mahasiswa tidak luput dari risiko dan dampak yang ditimbulkan oleh kegiatan mahasiswa. Hal tersebut menunjukkan bahwa Institut Pertanian Bogor sebagai salah satu universitas dengan organisasi mahasiswa yang beragam perlu menerapkan manajemen risiko untuk menanggulangi kejadian-kejadian tersebut. Sebanyak 21 persen dari mahasiswa yang terakumulasi dalam empat angkatan aktif mengikuti organisasi mahasiswa yang ada di Institut Pertanian Bogor. Sebanyak 6002 mahasiswa tergabung dalam organisasi mahasiswa yang aktif di Institut Pertanian Bogor seperti yang diatur pada TAP MPM KM Institut Pertanian Bogor BAB II mengenai Struktur Organisasi Kemahasiswaan IPB. Organisasi mahasiswa inilah yang menyelanggarakan program kerja bagi mahasiswa yang tergabung maupun tidak tergabung didalamnya.
B. Delapan Prinsip Dasar Penerapan Manajemen Risiko
Elemen Utama ISO 31000 Manajemen Risiko
Sebagai panduan pengelolaan atas risiko bagi perusahaan, Anda harus mengetahui bahwa ISO 31000 terdiri dari tiga elemen dasar, yaitu;
1. Prinsip (Principle)
Elemen ini akan menjelaskan tentang dasar filosofi dari praktik manajemen risiko. Pada versi 2009, ISO 31000 terdiri dari 11 prinsip yang kemudian mengalami penyusutan hingga 8 prinsip dalam versi terbaru. Delapan prinsip tersebut, meliputi; terintegrasi, terstruktur dan komprehensif, disesuaikan, inklusif, dinamis, informasi terbaik yang tersedia, faktor manusia dan budaya, serta peningkatan berkesinambungan.
2. Kerangka Kerja (Framework)
Kerangka kerja adalah elemen yang berisi pengaturan secara sistematis dan terstruktur terkait penerapan manajemen risiko pada sebuah organisasi/perusahaan. Inilah yang nantinya akan menjadi panduan cara kerja bagi pihak-pihak terkait dalam upaya menerapkan manajemen risiko.
Tak jauh berbeda dengan sistem manajemen lain, ISO 31000 juga bekerja dengan model PDCA (Plan, Do, Check, Act). Alhasil, kerangka kerjanya mencakup; perencanaan, implementasi, evaluasi, perbaikan, dan improvement berkelanjutan.
3. Proses
Elemen ini berkaitan dengan aktivitas aktual dalam upaya pengelolaan risiko. Mulai dari tahap identifikasi, penerapan, hingga analisis dan evaluasi.
prinsip manajemen risiko mengalami proses penyederhanaan menjadi 8 poin utama, yaitu;
1. Terintegrasi
Maksud dari terintegrasi adalah manajemen risiko menjadi bagian dari semua aktivitas perusahaan. Dalam artian, semua aktivitas atau kegiatan yang dilakukan oleh tiap bagian dalam perusahaan harus dihubungkan dengan manajemen risiko, agar nantinya ini bisa mendukung terhadap pencapaian tujuan dan peningkatan kinerja serta inovasi.
2. Terstruktur dan komprehensif
Dalam upaya menerapkan sistem manajemen risiko, setiap proses atau tahapan harus terstruktur dan terencana dengan baik. Tak lain, agar perkembangan dan hasilnya bisa terpantau dan dapat dibandingkan.
3. Dapat disesuaikan
Standar dan panduan yang ada dalam ISO 31000 terbilang cukup fleksibel. Dalam arti, bisa disesuaikan dengan kondisi internal dan eksternal perusahaan, ataupun dengan tujuannya. Tak hanya itu, dalam perumusan sistem manajemen risiko, perusahaan juga harus memperhatikan soal waktu, saat ini dan masa yang akan datang.
4. Inklusif
Perancangan ataupun penerapan ISO 31000 pasti membutuhkan keterlibatan dari pihak pemangku kepentingan. Selayaknya, pandangan dan persepsi dari para petinggi perusahaan ini akan menjadi pertimbangan dalam perumusan sistem manajemen risiko. Termasuk keterlibatan mereka dalam proses pemantauan, peninjauan, dan evaluasi.
5. Dinamis
Anda harus paham bahwa risiko juga bisa bersifat dinamis. Dalam artian, risiko bisa berubah sesuai dengan konteks internal dan eksternal perusahaan. Karenanya, manajemen risiko juga harus memiliki prinsip dinamis agar bisa mendeteksi, mengantisipasi, serta merespons perubahan dengan cepat dan tepat.
6. Informasi terbaik yang tersedia
Dalam upaya menerapkan sistem manajemen risiko, perusahaan pasti membutuhkan banyak data. Baik itu data masa sebelumnya, saat ini, ataupun harapan dan target di masa depan. Pastikan data-data tersebut jelas, valid, dan tepat waktu untuk diberikan kepada para pemangku kepentingan.
7. Faktor manusia dan budaya
Dalam realitanya, penerapan sistem manajemen sangat dipengaruhi oleh faktor perilaku manusia dan budaya kerja yang ada pada organisasi tersebut. Bagaimanapun, budaya organisasi pasti akan selalu berhubungan sekaligus berpengaruh terhadap pelaksanaan tugas di setiap tingkatan manajemen risiko.Karena itulah, penting bagi para pimpinan dan semua pihak untuk saling memotivasi agar bisa menciptakan budaya kerja yang positif dan mendukung penerapan ISO 31000.
8. Peningkatan berkelanjutan
Sesuai dengan konsep Plan-Do-Check-Action (PDCA), dari penerapan sistem manajemen ini pasti akan ada perbaikan berkelanjutan. Hingga akhirnya, ini bisa menjadi standar baru bagi perusahaan guna meningkatkan efektivitas dari manajemen risiko.
Komentar
Posting Komentar